Andalan

Pethuk Gunungan, Syukur Atas Berkah Panen

Gunungan adalah wujud rasa syukur masyarakat terhadap hasil bumi yang telah diberikah oleh sang Pencipta Alam Raya. Gunungan ini ditampilkan pada Selasa, 13 November 2019, di hari ke dua  rangkaian acara Arakan Santri dan Maulud Nabi di Desa Deroduwur, Kec. Mojotengah, Kab. Wonosobo.

Salah satu hal menarik dalam rangkaian agenda itu  bertajuk “Pethuk Gunungan”. Dimana gunungan yang dibuat dari tiap dusun yang ada di Desa Deroduwur (dusun Buntu, Melikan, Bululawang, dan Deroduwur) dipertemukan dilapangan Sabrangan.

Sebelum dipertemukan, gunungan berisi sayuran, buah, palapendem, dan hasil bumi lainnya itu diarak mengelilingi desa dalam  karnaval oleh para petani desa. Kreativitas warga dalam menata aneka sayuran dan buah-buahan yang disusun menyerupai sebuah gunung menjadi sebuah pemandangan menarik untuk diabadikan pengunjung.

Desa Ini Berani Jual Ciplukan MURAH

Beli Ciplukan di Deroduwur, per 100 gram hanya Rp15.000

Selain dikenal sebagai desa wisata religi, ternyata Deroduwur juga punya kekayaan hayati yang hingga kini terjaga. Selain buah strawberry, di Deroduwur yang sejuk dan memiliki bentang alam perbukitan punya jenis tanaman buah yang kini langka, yakni Ciplukan atau Cecenet.

Beberapa tahun terakhir, Desa Deroduwur juga sedang mengembangkan diri menjadi desa wisata agro dengan membudidayakan tanaman ciplukan, meski lokasi penanaman ciplukan belum dijadikan tempat wisata, buah ciplukan hasil panen sudah dapat kamu nikmati secara langsung. Satu kemasan buah ciplukan dengan berat 100 gram bisa pengunjung nikmati dengan harga Rp15.000 saja.

Bagi yang berminat dan penasaran dengan ciplukan yang kaya akan manfaat bisa kontak via Instagram Deroduwur dan DM admin atau hub @galerioleh desa Deroduwur.

Khasiat Buah “Ndeso”

Ternyata buah yang terbilang ndeso inibanyak sekali manfaat yang luar biasa untuk tubuh, tetapi masih banyak sekali orang yang belum mengetahui tentang khasiat yang dimiliki oleh Ciplukan, bahkan terakhir harga Ciplukan mencapai Rp300-500 ribu per kilo gramnya dijual di supermarket.

Keberadaan Ciplukan sering dianggap hama sehingga sering kali dibasmi karena dianggap menganggu. Padahal manfaat dari Ciplukan sangat banyak hingga puluhan khasiatnya.

  • Obat untuk asma
  • Obat Untuk Penyakit Kurap
  • Obat Untuk Demam
  • Obat Untuk Kanker Payudara
  • Obat Untuk Stroke

 

Sejarah Deroduwur, Nama, Kiyai, hingga keturunan Mataram

Artikel ini diambil dari Wikipedia

Sejarah Nama

Berasal dari kata Ndoro Duwur (Bhs.Jawa) dikisahkan Desa Deroduwur didirikan oleh seorang Ndoro (tuan) yang bernama Tumenggung Kerta Wangsa dan saat ini beliau dimakamkan di Makam Umum Desa Deroduwur. Dusun Melikan Berasal dari kata Melik-melik tekan (bhs, Jawa) di mana sejarahnya adalah sebuah tempat yang hanya kelihatan sinar lampunya tetapi setelah di tuju oleh seorang kyai ternyata sampai juga. Kayi tersebut dikenal dengan Nam Kyai Abdul Jabar, Dia wafat dan dimakamkam di Makam Umum dusun Melikan dan petilasanya sekarang di kenal dengan nama Makam Kayi Jubar. Dusun Bululawang (mbah lembulewang) dikisahkan pendiri Dusun ini adalah Mbah Bulewang yang sekarang dimakamkan Dimakam umum Dusun Bululawang, selain itu dusun ini sebagai pintu masuk dan keluar Desa Deroduwur menuju Kecamatan Watumalang. kemudian Dusun Buntu yang secara bahasa adalah jalan terakhir atau tidak bisa lagi dilewati, dusun ini berada di bawah bukit Basma yang menyatu dengan dataran tinggi Dieng (sembungan). Hampir tiap desa di sekitar desa ini dikelilingi sungai kecil.

Batas Wilayah

Desa Deroduwur sendiri sebelah utara berada di lereng Gunung Bisma dan dataran tinggi Dieng pemukiman lainnya adalah Igirbuntu yaitu lereng bukit yang tidak memiliki akses jalan lain, disini terdapat Makam KH.asy’ari, KH. Muntaha dan KH. Mustahal. dipemakaman ini juga terdapat seorang Keturunan Kerajaan yang bernana RA. Soestiyah(sampai saat ini belum ada konfirmasi sejarah Keturunan dan keluarganya) dia dikisahkan memohon kepada K.Asy’ari untuk di izinkan dimakamkan disekitar Kyai Asy’ari. tanah ini merupakan Hasil Wakaf Keluarga besar Mbah Bachri, Mbah Chudlori. sisanya hasil Pembelian Keluarga Besar Bani Asy’ari.

makam Dero Duwur ketika didatangi peziarah

Tempat Singgah Kiyai Besar

Dulunya, desa ini terkenal dengan hutan-hutan yang rimba. Bahkan karena terletak jauh dari pusat kota wonosobo dan terpelosokkannya desa ini, kendaraanpun tidak dapat melaluinya. sekitar tahun 1930an desa ini sempat menjadi tempat singgah beberapa Kiai Besar Wonosobo, di antaranya mbah Hasbullah, Kiai Asy’ari, Kiai Abu Na’im(mbah Bunangim), syaikh Suhaimi dan beberapa lainnya. Akan tetapi, sekarang berkat adanya ulama-ulama yg memasuki desa ini pun mengalami perkembangan yg cukup pesat hingga tersedia fasilitas-fasilitas pendidikan dsb.

Menurut data sejarah geografis saat kecamatan mojotengah berada di sebelah barat sungai Serayu sekitar tahun 1900-1889 an akses menuju desa ini hanya bisa dilalui dengan jalan setapak. setelah perkembangan tahun 1970 pertama kali membuka jalan oleh pemkab wonosobo bersama ABRI masuk desa dan swadaya masyarakat desa Deroduwur, Derongisor, Mojotengah dan Kalibeber. Dengan gotongroyong terbuktilah pengembangan desa terluar menjadi lebih maju dan produktif.

Keturunan Mataram Bermukim di Deroduwur

Desa Deroduwur memiliki keunikan secara budaya dan geografis, secara budaya desa ini termasuk pecahan dari para sesepuh dan orang-orang pertama disini kebnyakan keturunan pembesar dari daerah Mataram. seperti Mbah Tumenggung Kertawangsa, Maestro Al-Qur’an. KH.Muntaha.Alh, beserta adiknya KH. Mustahal dimakamkan di desa ini, dia lah yang memprakarsai pembangunan Lembaga pendidikan didesa ini untuk tingkat SMP dan SMA pada tahun 2002. lembaga tersebut terletak satu komplek dengan makam, Lembaga tesebut Di bawah naungan yayasan Al-Asy’ariah. Terdapat juga Pondok Pesantren Al-Asy’ariah 2 Deroduwur. Awal pembangunnya dengan bantuan tenaga dan material dari masyarakat desa deroduwur, bantuan pribadi H. Kholiq Arief (Wakil bupati Wonosobo pada saat itu) dan bantuan pemkab Wonosobo.

Dusun di Deroduwur:

  • Dusun Bululawang
  • Dusun Buntu
  • Dusun Deroduwur
  • Dusun Melikan

Desa Deroduwur Dibina Jateng

Punya potensi Wisata Religi, Alam dan Seni

WONOSOBO – Desa Deroduwur yang ada di Kecamatan Mojotengah belum lama ini diresmikan sebagai Desa Binaan Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata atau Disporapar Provinsi Jawa Tengah pada Rabu(24 /4). Hal tersebut dilakukan menyusul mandat yang dikeluarkan oleh Gubernur Jawa Tengah bahwa setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah atau SKPD wajib memiliki minimal satu desa binaan.

Menanggapi hal itu, masyarakat desa Deroduwur menyatakan siap untuk mengoptimalkan potensi desa menjadi Desa Wisata Religi. Pasca peresmian oleh Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah rabu kemarin, Sekretaris Desa Deroduwur, Sukaryo mengatakan, selain memperbaiki pengelolaan Makam Ulama. Mengingat selama ini para peziarah banyak mendatangi kawasan itudan pihaknya akan mengembangkan beberapa potensi alam yang ada di daerah tersebut. Selain itu, juga akan ada budidaya buah di Deroduwur berupa Strawberry.

“Nantinya masyarakat akan mulai melakukan budidaya strawberry. Tidak hanya stawberry bahkan kami berencana akan membudiyakan tanaman ciplukan. Tanaman yang dinilai sepele ini semoga nantinya mampu menjadi objek agro wisata jika dikelola dengan baik,” ungkapnya.

Selain agro wisata pihaknya sudah berencana membuka beberapa wisata alam. Pada bagian selatan makam terdapat terowongan yang akan pihaknya hias dan akan dilengkapi dengan gazebo-gazebo, sehingga para peziarah bisa sekaligus berekreasi.

pokdarwis

Selain potensi alam, Sukaryo menyampaikan Desa Deroduwur memiliki banyak kesenian desa yang sudah ada sejak lama. Pada tahun 2018 disebut Sekdes ada sebanyak 14 kelompok seni yang sudah memiliki sertifikat.

“Di antanya kesenian jurus, arab-araban, kuda kepang, gambus, rebana modern dan rebana klasik. Setiap tahun pada Bulan Maulud pihak desa menyelenggarakan pentas kesenian. Semoga bisa mendorong Desa Deroduwur menjadi Desa Wisata Religi,” ungkapnya.

Kepala Disporapar Provinsi Jawa Tengah Sinoeng Noegroho Rachmadi menyebut alasan pihaknya memilih Desa Deroduwur sebagai Desa Binaan dikarenakan desa tersebut berada pada radius merah kemiskinan.

“Kami melalui Program Pengembangan Kepedulian dan Kepeloporan Pemuda atau PKKP menggali potensi yang ada pada desa tersebut untuk kemudian dikembangka. Beberapa wisata alam juga nantinya akan diupayakan untuk bisa dimaksimalkan sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar tentunya selain wisata religi ziarah makam ulama,” ungkapnya.

Sinoeng mengatakan potensi berupa tanaman Singkong yang tumbuh subur di daerah tersebut bisa dijadikan berbagai olahan menarik. Selain itu Desa Wisata Religi diusung mengingat terdapat makam KH Muntaha Al Hafidz yang ramai didatangi peziarah. (win)

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai