Punya potensi Wisata Religi, Alam dan Seni
WONOSOBO – Desa Deroduwur yang ada di Kecamatan Mojotengah belum lama ini diresmikan sebagai Desa Binaan Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata atau Disporapar Provinsi Jawa Tengah pada Rabu(24 /4). Hal tersebut dilakukan menyusul mandat yang dikeluarkan oleh Gubernur Jawa Tengah bahwa setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah atau SKPD wajib memiliki minimal satu desa binaan.
Menanggapi hal itu, masyarakat desa Deroduwur menyatakan siap untuk mengoptimalkan potensi desa menjadi Desa Wisata Religi. Pasca peresmian oleh Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah rabu kemarin, Sekretaris Desa Deroduwur, Sukaryo mengatakan, selain memperbaiki pengelolaan Makam Ulama. Mengingat selama ini para peziarah banyak mendatangi kawasan itudan pihaknya akan mengembangkan beberapa potensi alam yang ada di daerah tersebut. Selain itu, juga akan ada budidaya buah di Deroduwur berupa Strawberry.
“Nantinya masyarakat akan mulai melakukan budidaya strawberry. Tidak hanya stawberry bahkan kami berencana akan membudiyakan tanaman ciplukan. Tanaman yang dinilai sepele ini semoga nantinya mampu menjadi objek agro wisata jika dikelola dengan baik,” ungkapnya.
Selain agro wisata pihaknya sudah berencana membuka beberapa wisata alam. Pada bagian selatan makam terdapat terowongan yang akan pihaknya hias dan akan dilengkapi dengan gazebo-gazebo, sehingga para peziarah bisa sekaligus berekreasi.

Selain potensi alam, Sukaryo menyampaikan Desa Deroduwur memiliki banyak kesenian desa yang sudah ada sejak lama. Pada tahun 2018 disebut Sekdes ada sebanyak 14 kelompok seni yang sudah memiliki sertifikat.
“Di antanya kesenian jurus, arab-araban, kuda kepang, gambus, rebana modern dan rebana klasik. Setiap tahun pada Bulan Maulud pihak desa menyelenggarakan pentas kesenian. Semoga bisa mendorong Desa Deroduwur menjadi Desa Wisata Religi,” ungkapnya.
Kepala Disporapar Provinsi Jawa Tengah Sinoeng Noegroho Rachmadi menyebut alasan pihaknya memilih Desa Deroduwur sebagai Desa Binaan dikarenakan desa tersebut berada pada radius merah kemiskinan.
“Kami melalui Program Pengembangan Kepedulian dan Kepeloporan Pemuda atau PKKP menggali potensi yang ada pada desa tersebut untuk kemudian dikembangka. Beberapa wisata alam juga nantinya akan diupayakan untuk bisa dimaksimalkan sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar tentunya selain wisata religi ziarah makam ulama,” ungkapnya.
Sinoeng mengatakan potensi berupa tanaman Singkong yang tumbuh subur di daerah tersebut bisa dijadikan berbagai olahan menarik. Selain itu Desa Wisata Religi diusung mengingat terdapat makam KH Muntaha Al Hafidz yang ramai didatangi peziarah. (win)